Showing posts with label Life. Show all posts
Showing posts with label Life. Show all posts

Kesetian Seorang Ibu






Jalannya
sudah tertatih-tatih, karena usianya sudah lebih dari 70 tahun,
sehingga kalau tidak perlu sekali, jarang ia bisa dan mau keluar rumah.
Walaupun ia memunyai seorang anak perempuan, ia harus tinggal di rumah
jompo, karena kehadirannya tidak diinginkan. Masih teringat olehnya,
betapa berat penderitaannya ketika akan melahirkan putrinya tersebut.
Ayah dari anak tersebut minggat setelah menghamilinya tanpa mau
bertanggung jawab atas perbuatannya.



Di
samping itu keluarganya menuntut agar ia menggugurkan bayi yang belum
dilahirkan, karena keluarganya merasa malu memunyai seorang putri yang
hamil sebelum nikah, tetapi ia tetap mempertahakannya, oleh sebab itu
ia diusir dari rumah orang tuanya. Selain aib yang harus ditanggung, ia
pun harus bekerja berat di pabrik untuk membiayai hidupnya. Ketika ia
melahirkan putrinya, tidak ada seorang pun yang mendampinginya. Ia
tidak mendapatkan kecupan manis maupun ucapan selamat dari siapapun
juga, yang ia dapatkan hanya cemoohan, karena telah melahirkan seorang
bayi haram tanpa bapa.







Walaupun demikian ia merasa bahagia sekali
atas berkat yang didapatkannya dari Tuhan di mana ia telah dikaruniakan
seorang putri. Ia berjanji akan memberikan seluruh kasih sayang yang
ia miliki hanya untuk putrinya seorang, oleh sebab itulah putrinya
diberi nama Love -- Kasih. Siang ia harus bekerja berat di pabrik dan
di waktu malam hari ia harus menjahit sampai jauh malam, karena itu
merupakan penghasilan tambahan yang ia bisa dapatkan.


Terkadang
ia harus menjahit sampai pukul 2 pagi, tidur lebih dari 4 jam sehari
itu adalah sesuatu kemewahan yang tidak pernah ia dapatkan. Bahkan
Sabtu dan Minggu pun ia masih bekerja menjadi pelayan restoran. Ini ia
lakukan semua agar ia bisa membiayai kehidupan maupun biaya sekolah
putrinya yang tercinta. Ia tidak mau menikah lagi, karena ia masih
tetap mengharapkan, bahwa pada suatu saat ayah dari putrinya akan
datang balik kembali kepadanya. Di samping itu ia tidak mau memberikan
ayah tiri kepada putrinya.



Sejak ia melahirkan
putrinya ia menjadi seorang vegetarian, karena ia tidak mau membeli
daging, itu terlalu mahal baginya, uang untuk daging yang seyogianya ia
bisa beli, ia sisihkan untuk putrinya. Untuk dirinya sendiri ia tidak
pernah mau membeli pakaian baru, ia selalu menerima dan memakai pakaian
bekas pemberian orang, tetapi untuk putrinya yang tercinta, hanya yang
terbaik dan terbagus ia berikan, mulai dari pakaian sampai dengan
makanan.


Pada suatu saat ia jatuh sakit, demam
panas. Cuaca di luar sangat dingin sekali, karena pada saat itu sedang
musim dingin menjelang hari Natal. Ia telah menjanjikan untuk
memberikan sepeda sebagai hadiah Natal untuk putrinya, tetapi ternyata
uang yang telah dikumpulkannya belum mencukupi. Ia tidak ingin
mengecewakan putrinya, maka dari itu walaupun cuaca di luar dingin
sekali, bahkan dalam keadaan sakit dan lemah, ia tetap memaksakan diri
untuk keluar rumah dan bekerja.


Sejak saat
itu ia kena penyakit rheumatik, sehingga sering sekali badannya terasa
sangat nyeri. Ia ingin memanjakan putrinya dan memberikan hanya yang
terbaik bagi putrinya walaupun untuk ini ia harus bekorban, jadi dalam
keadaan sakit ataupun tidak sakit ia tetap bekerja, selama hidupnya ia
tidak pernah absen bekerja demi putrinya yang tercinta.


Karena
perjuangan dan pengorbanannya akhirnya putrinya bisa melanjutkan
studinya di luar kota. Di sana putrinya jatuh cinta kepada seorang
pemuda anak dari seorang konglomerat beken. Putrinya tidak pernah mau
mengakui bahwa ia masih memunyai orang tua. Ia merasa malu bahwa ia
ditinggal minggat oleh ayah kandungnya dan memunyai seorang ibu yang
bekerja hanya sebagai babu pencuci piring di restoran. Oleh sebab
itulah ia mengaku kepada calon suaminya bahwa kedua orang tuanya sudah
meninggal dunia.


Pada saat putrinya menikah,
ibunya hanya bisa melihat dari jauh dan itupun hanya pada saat upacara
pernikahan di gereja saja. Ia tidak diundang, bahkan kehadirannya tidak
diinginkan. Ia duduk di sudut kursi paling belakang di gereja, sambil
mendoakan agar Tuhan selalu melindungi dan memberkati putrinya yang
tercinta. Sejak saat itu bertahun-tahun ia tidak mendengar kabar dari
putrinya, karena ia dilarang dan tidak boleh menghubungi putrinya. Pada
suatu hari ia membaca di koran bahwa putrinya telah melahirkan seorang
putera, ia merasa bahagia sekali mendengar berita bahwa ia sekarang
telah memunyai seorang cucu.


Ia sangat
mendambakan untuk bisa memeluk dan menggendong cucunya, tetapi ini
tidak mungkin, sebab ia tidak boleh menginjak rumah putrinya. Untuk ini
ia berdoa tiap hari kepada Tuhan, agar ia bisa mendapatkan kesempatan
untuk melihat dan bertemu dengan anak dan cucunya, karena keinginannya
sedemikian besarnya untuk bisa melihat putri dan cucunya, ia melamar
dengan menggunakan nama palsu untuk menjadi babu di rumah keluarga
putrinya. Ia merasa bahagia sekali, karena lamarannya diterima dan
diperbolehkan bekerja di sana. Di rumah putrinya ia bisa dan boleh
menggendong cucunya, tetapi bukan sebagai Oma dari cucunya melainkan
hanya sebagai bibi pembantu dari keluarga tersebut. Ia merasa berterima
kasih sekali kepada Tuhan, bahwa permohonannya telah dikabulkan.


Di
rumah putrinya, ia tidak pernah mendapatkan perlakuan khusus, bahkan
binatang peliharaan mereka jauh lebih dikasihi oleh putrinya daripada
dirinya sendiri. Di samping itu sering sekali dibentak dan dimaki oleh
putri dan anak darah dagingnya sendiri, kalau hal ini terjadi ia hanya
bisa berdoa sambil menangis di dalam kamarnya yang kecil di belakang
dapur. Ia berdoa agar Tuhan mau mengampuni kesalahan putrinya, ia
berdoa agar hukuman tidak dilimpahkan kepada putrinya, ia berdoa agar
hukuman itu dilimpahkan saja kepadanya, karena ia sangat menyayangi
putrinya.


Setelah bekerja bertahun-tahun
sebagai babu tanpa ada orang yang mengetahui siapa dirinya di rumah
tersebut, akhirnya ia menderita sakit dan tidak bisa bekerja lagi.
Mantunya merasa berhutang budi kepada pelayan tuanya yang setia ini
sehingga ia memberikan kesempatan untuk menjalankan sisa hidupnya di
rumah jompo. Puluhan tahun ia tidak bisa dan tidak boleh bertemu lagi
dengan putri kesayangannya. Uang pensiun yang ia dapatkan selalu ia
sisihkan dan tabung untuk putrinya, dengan pemikiran siapa tahu pada
suatu saat ia membutuhkan bantuannya.


Pada
tahun lampau beberapa hari sebelum Natal, ia jatuh sakit lagi, tetapi
ini kali ia merasakan bahwa saatnya sudah tidak lama lagi. Ia merasakan
bahwa ajalnya sudah mendekat. Hanya satu keinginan yang ia dambakan
sebelum ia meninggal dunia, ialah untuk bisa bertemu dan boleh melihat
putrinya sekali lagi. Di samping itu ia ingin memberikan seluruh uang
simpanan yang ia telah kumpulkan selama hidupnya, sebagai hadiah
terakhir untuk putrinya.


Suhu di luar telah
mencapai 17 derajat di bawah nol dan salju pun turun dengan lebatnya.
Jangankan manusia, anjing pun pada saat ini tidak mau ke luar rumah
lagi, karena di luar sangat dingin, tetapi nenek tua ini tetap
memaksakan diri untuk pergi ke rumah putrinya. Ia ingin betemu dengan
putrinya sekali lagi yang terakhir kali. Dengan tubuh menggigil karena
kedinginan, ia menunggu datangnya bus berjam-jam. Ia harus dua kali
ganti bus, karena jarak rumah jompo letaknya jauh dari rumah putrinya.
Satu perjalanan yang jauh dan tidak mudah bagi seorang nenek tua yang
berada dalam keadaan sakit.


Setiba di rumah
putrinya dalam keadaan lelah dan kedinginan ia mengetuk rumah putrinya
dan ternyata putrinya sendiri yang membukakan pintu rumah. Apakah
ucapan selamat datang yang diucapkan putrinya? Apakah rasa bahagia
bertemu kembali dengan ibunya? Tidak! Bahkan ia ditegor: "Kamu sudah
bekerja di rumah kami puluhan tahun sebagai pembantu, apakah kamu tidak
tahu bahwa untuk pembantu ada pintu khusus, ialah pintu di belakang
rumah!"


"Nak, Ibu datang bukannya untuk
bertamu melainkan hanya ingin memberikan hadiah Natal untukmu. Ibu
ingin melihat kamu sekali lagi, mungkin yang terakhir kalinya, bolehkah
saya masuk sebentar saja, karena di luar dingin sekali dan sedang
turun salju. Ibu sudah tidak kuat lagi, Nak!" kata wanita tua itu.
"Maaf saya tidak ada waktu, di samping itu sebentar lagi kami akan
menerima tamu seorang pejabat tinggi, lain kali saja. Dan kalau lain
kali mau datang telepon dahulu, jangan sembarangan datang begitu saja!"
ucap putrinya dengan nada kesal. Setelah itu pintu ditutup dengan
keras. Ia mengusir ibu kandungnya sendiri, seperti juga mengusir
seorang pengemis. Tidak ada rasa kasih, jangankan kasih, belas kasihan
pun tidak ada.


Setelah beberapa saat kemudian
bel rumah bunyi lagi, ternyata ada orang mau pinjam telepon di rumah
putrinya "Maaf Bu, mengganggu, bolehkah kami pinjam teleponnya sebentar
untuk menelepon ke kantor polisi, sebab di halte bus di depan ada
seorang nenek meninggal dunia, rupanya ia mati kedinginan!" Wanita tua
ini mati bukan hanya kedinginan jasmaniahnya saja, tetapi juga
perasaannya. Ia sangat mendambakan sekali kehangatan dari kasih sayang
putrinya yang tercinta yang tidak pernah ia dapatkan selama hidupnya.


Ibu
saya tidak melek komputer, bahkan beliau seorang wanita yang buta
aksara, tetapi untuk Mang Ucup pribadi beliau adalah wanita yang paling
hebat, di mana sampai dengan detik ini Mang Ucup masih bisa belajar
dari padanya. Belajar memberikan dan membagikan kasih tanpa pamrih dan
tanpa lagas. Ibunya Mang Ucup menderita sakit kanker, tetapi ia tidak
pernah mengeluh. Tiap kali saya menelpon Ibu, pertanyaan standar selalu
diajukan kepada saya: "Apa yang Ibu bisa bantu untukmu, Nak?" Ia tidak
memohon untuk dirinya sendiri dalam doanya, yang ia utamakan selalu
hanyalah kami anak-anaknya! Ia selalu mendoakan kami siang dan malam.


Maka
dari itulah untuk Mang Ucup, Ibu saya adalah wanita yang tercantik
sejagat raya, melebihi daripada Michael Preifer walaupun ia barusan
saja terpilih oleh majalah People sebagai wanita tercantik sedunia
tahun 1999. Seorang Ibu melahirkan dan membesarkan anaknya dengan penuh
kasih sayang tanpa mengharapkan pamrih apapun juga.


Seorang
Ibu bisa dan mampu memberikan waktunya 24 jam sehari bagi
anak-anaknya, tidak ada perkataan siang maupun malam, tidak ada
perkataan lelah ataupun tidak mungkin dan ini 366 hari dalam setahun.


Seorang
Ibu mendoakan dan mengingat anaknya tiap hari bahkan tiap menit dan
ini sepanjang masa. Bukan hanya setahun sekali saja pada hari-hari
tertentu. Kenapa kita baru bisa dan mau memberikan bunga maupun hadiah
kepada Ibu kita hanya pada waktu hari Ibu saja sedangkan di hari-hari
lainnya tidak pernah mengingatnya, boro-boro memberikan hadiah, untuk
menelpon saja kita tidak punya waktu. Kita akan bisa lebih
membahagiakan Ibu kita apabila kita mau memberikan sedikit waktu kita
untuknya, waktu nilainya ada jauh lebih besar daripada bunga maupun
hadiah.


Renungkanlah: Kapan kita terakhir kali
menelpon Ibu? Kapan kita terakhir mengundang Ibu? Kapan terakhir kali
kita mengajak Ibu jalan-jalan? Dan kapan terakhir kali kita memberikan
kecupan manis dengan ucapan terima kasih kepada Ibu kita? Dan kapankah
kita terakhir kali berdoa untuk Ibu kita? Berikanlah kasih sayang
selama Ibu kita masih hidup, percuma kita memberikan bunga maupun
tangisan apabila Ibu telah berangkat, karena Ibu tidak akan bisa
melihatnya lagi.


"When Mother prayed, she
found sweet rest, When Mother prayed, her soul was blest; Her heart and
mind on Christ were stayed, And God was there when Mother prayed!"


"Our thanks, O God, for mothers Who show, by word and deed, Commitment to Thy will and plan And Thy commandments heed."


"A thousand men may build a city, but it takes a mother to make a home."

Apabila
Anda mengasihi Ibunda Anda sebarkanlah tulisan ini kepada rekan-rekan
lainnya, agar mereka juga sadar selama Ibunda mereka masih hidup
berikanlah bakti kasih Anda kepada Ibunda terkasih sebelumnya
terlambat.

DAN YANG INIPUN AKAN BERLALU




Pada suatu hari, seseorang meminta kepada seorang tukang emas yang sudah tua renta untuk membuat cincin dan menuliskan sesuatu di dalamnya.



Org tsb berpesan,"Tuliskanlah sesuatu yang bisa kamu simpulkan dari seluruh pengalaman dan perjalanan hidupmu supaya bisa menjadi pelajaran bagi hidup saya".



Berbulan-bulan si tukang emas yang tua membuat cincin tersebut merenung kalimat apa yang patut diukir di cincin emas yang kecil itu.

Akhirnya, si tukang emas itupun selesai dan menyerahkan cincinnya pada orang tsb.



Dengan tersenyum, orang itu membaca tulisan kecil di cincin itu.

Bunyinya, "THIS TOO SHALL PASS" (artinya "DAN YANG INIPUN AKAN BERLALU").



Awalnya orang tsb tidak terlalu paham dengan tulisan

itu. Tapi, suatu ketika, tatkala menghadapi persoalan hidup yang pelik, akhirnya ia membaca tulisan di cincin itu "DAN YANG INIPUN AKAN BERLALU" lalu ia pun menjadi lebih tenang,

Dan tatkala ia sedang bersenang-senang, ia pun tak sengaja membaca tulisan di cincin itu "DAN YANG INIPUN AKAN BERLALU" lantas ia menjadi rendah hati kembali.



Ketika kamu lagi punya masalah besar ataupun sedang lagi kondisi terlalu gembira, ingatlah kalimat "DAN YANG INIPUN AKAN BERLALU" Tidak ada satupun yg langgeng.



Jadi, ketika kamu punya masalah, tidaklah perlu terlalu bersedih. Tapi, tatkala kamu lagi senang, nikmatilah selagi kamu bisa senang. Ingatlah, apapun yg kamu hadapi saat ini, semuanya akan berlalu.



Jadilah :

• tetap SEJUK di tempat yg Panas..

• tetap MANIS di tempat yg begitu Pahit..

• tetap merasa KECIL meskipun telah menjadi Besar..

• tetap TENANG di tengah Badai yg paling Hebat..

& THIS TOO SHALL PASS!!!



Sifat api adalah panas

Tiada api yang terpisah dari panas yang adalah sifatnya.



Adalah sia-sia,Bila api berusaha untuk menolak atau melenyapkan panas yang adalah sifatnya sendiri.



Sama seperti api berkata:"janganlah panas!",ini mustahil.



"Biarkan"api padam dengan sendirinya,maka panas yang adalah sifatnya tersebut juga akan lenyap dengan alamiah.

Ketika Ajal Tiba



HAL YANG PALING MENGAGUMKAN DI DUNIA

Suatu ketika Yamaraja bertanya kepada Maharaja Yudhisthira, “Apakah hal yang paling mengagumkan di dunia ini?” Maharaja Yudhisthira menjawab :
ahany ahani bhutani

gacchantiha yamalayam

setah sthavaram icchanti

kim ascaryam atah param
“ Setiap hari ratusan bahkan jutaan makhluk hidup pergi ke kerajaan kematian. Tetapi tetap saja, mereka yang masih hidup ingin mendapatkan keadaan yang kekal. Apa yang lebih mengagumkan lagi dari hal ini ? ”

(Mahabharata, Vana-parva 313.116).

Ratusan dan ribuan makhluk hidup menghadapi ajalnya setiap saat, tetapi makhluk hidup yang bodoh berpikir dirinya tak akan mati dan tidak mempersiapkan dirinya dalam menghadapi kematian. Inilah hal yang paling mengagumkan di dunia ini. Semua orang akan mati karena mereka sepenuhnya berada dibawah kendali alam material, tapi tetap saja mereka berpikir bahwa mereka bebas, mereka bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan, mereka merasa tak akan mati tetapi hidup selamanya, dan seterusnya.

Mereka yang namanya saja ilmuwan membuat berbagai macam rencana untuk membuat makhluk hidup dimasa depan dapat hidup selamanya, tetapi disaat mereka mengejar pengetahuan ilmiah tersebut, seiring berjalannya waktu, Yamaraja sebagai dewa kematian, akan menyingkirkan mereka dari usaha penelitiannya itu.
MEMPERSIAPKAN MENTAL DISAAT AJAL
yam yam vapi smaran bhavam

tyajaty ante kalevaram

tam tam evaiti kaunteya

sada tad bhava-bhavitah
“Keadaan hidup manapun yang diingat seseorang pada saat ia meninggalkan badannya, pasti keadaan itulah yang akan dicapainya, wahai putera Kunti”.

(Bhagavad Gita 8.6).
Seperti disebutkan di atas, mentalitas seseorang disaat menghadapi kematiannya sangatlah penting. Tetapi jika kita merasa acuh dan berpikir, “oh, kematian akan datang – apa masalahnya?” maka kita tidak bisa maju didalam jalan spiritual. Seperti halnya udara membawa keharuman, jadi mentalitas seseorang pada saat kematian akan membawanya pada bentuk kehidupan berikutnya.

Jika saya seorang pengusaha. Yang saya lakukan hanyalah berbisnis sepanjang hidup hingga ajal tiba, secara alami mentalitas saya akan menjadi pengusaha.

Seorang pengusaha dari Jakarta pada saat kematiannya bertanya tentang manajemen pabriknya. Pada kehidupan selanjutnya ia mungkin akan lahir sebagai tikus di pabrik miliknya. Hal seperti ini bisa saja terjadi, Pada saat kematian apapun yang kau pikirkan akan membawamu kepada jenis badan tertentu pada kehidupan selanjutnya.
Yang Maha Pengasih (Tuhan) sangatlah baik hati, dan apapun mentalitas yang membuat seseorang terserap disaat kematian, Tuhan akan memberinya jenis badan yang sesuai: “Baiklah, kau berpikir seperti seekor tikus ? jadilah seekor tikus.” “Kau berpikir seperti seekor harimau ? jadilah harimau.” “Kau berpikir seperti penyembahKu ? maka datanglah padaKu.”

Bagaimana seseorang dapat meninggal dunia dengan keadaan pikiran yang benar ? Walaupun Maharaja Bharata adalah kepribadian yang mulia, beliau memikirkan seekor rusa pada akhir riwayatnya dan sebagai akibatnya dalam penjelmaan berikutnya ia diubah sehingga memiliki badan seekor rusa. Setelah menjadi rusa, dia tetap mengenang kegiatannya pada masa lampau, namun ia terpaksa menerima badan sebagai binatang seperti itu. Tentu saja pikiran seseorang selama kehidupannya, menumpuk untuk mempengaruhi pikirannya pada saat ia meninggal. Jadi, kehidupan ini menciptakan penjelmaan yang akan datang. Kalau dalam kehidupan sekarang seseorang hidup dalam sifat kebaikan dan selalu berpikir tentang Tuhan

dimungkinkan ia dapat ingat kepada Tuhan pada saat akhir riwayatnya.

Kalau ia ingat kepada Tuhan pada akhir riwayatnya, itu akan membantu dirinya untuk dipindahkan ke alam rohani Tuhan. Kalau seseorang khusuk berpikir secara rohani dalam pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa yang bersifat pribadi (Saguna Brahman), maka badan berikutnya akan bersifat rohani (spiritual), bukan material. Karena itu, cara mengucapkan mantra atau Nama-nama suci Tuhan adalah cara terbaik untuk mencapai sukses dalam mengubah keadaan hidup pada akhir riwayat.


AJAMILA, CERITA DIAMBANG KEMATIAN
Di sebuah kota yang dikenal dengan Kanyakubja (sekarang di India dikenal dengan Kanauj) hidup seorang brahmana yang bernama Ajamila yang menikahi seorang pelacur dan kehilangan semua kualitas kebrahmanaannya karena pergaulannya dengan wanita kelas rendah itu. Ketika itu Ajamila berusia 20 tahun dan dari pelacur itu ia mendapatkan 10 anak. 88 tahun dari kehidupannya dilaluinya dengan kegiatan berdosa, mencuri, berjudi untuk menghidupi keluarganya. Anaknya yang paling kecil diberi nama Narayana, yang secara alami menjadi kesayangan kedua orang tuanya. Ketika dia hampir berusia 90 tahun, kematiannya sudah didepan mata. Pada saat itu kebanyakan anaknya telah tumbuh dewasa, dan secara alami ia menjadi sangat terikat kepada anaknya yang paling kecil, Narayana.

Pada saat kematiannya tiba, Ajamila melihat 3 orang aneh yang menyeramkan siap menjemputnya ke tempat Yamaraja, dewa kematian. Ajamila menjadi sangat ketakutan, dan mulai memanggil anaknya yang sedang bermain di dekatnya. Dengan suara keras dan airmata mengalir deras, entah bagaimana ia menyebut nama suci Narayana.

Walaupun Ajamila tidak bermaksud menyebut nama suci Narayana, melainkan ia hanya bermaksud memanggil nama anaknya, tetapi utusan Sri Visnu, para Visnuduta segera datang karena mendengar nama Tuannya itu. Utusan Yamaraja pada saat itu menarik roh Ajamila dari badannya, tetapi para Visnuduta melarangnya melakukan hal itu. Setelah memberikan penjelasan kepada Yamaduta tentang nama suci sebagai dharma tertinggi, Visnuduta melepas Ajamila dari ikatan Yamaduta dan menyelamatkannya dari kematian yang sudah didepan mata, kemudian Yamaduta kembali kepada Yamaraja dan menjelaskan semua yang terjadi. Ajamila sekarang telah bebas dari rasa takut dan bersujud kepada para Visnuduta, ketika ia ingin mengatakan sesuatu Visnuduta pun menghilang.

Karena pergaulannya dengan Visnuduta Ajamila menjadi bebas dari rasa ketertarikan material dan pergi ke Hardwar di tepi sungai Ganga. Di sana ia melihat Visnuduta dan meninggalkan badan materialnya untuk mendapatkan kembali badan rohaninya, kemudian bersama Visnuduta pergi dengan pesawat rohani ke tempat tinggal Sri Visnu.
THE FINAL DESTINATION (TUJUAN AKHIR)
Kemanakah tujuan kita berikutnya dan dimanakah tujuan akhir kita, dijelaskan oleh Sri Krishna kepada Arjuna di dalam Bhagavad gita;
yanti deva vrata devan

pitrn yanti pitr vratah

bhutani yanti bhutejya

yanti mad yajino ‘pi mam
“Orang yang menyembah dewa-dewa akan dilahirkan di antara para dewa, orang yang menyembah leluhur akan pergi ke leluhur, orang yang menyembah hantu dan roh halus akan dilahirkan di tengah-tengah makhluk seperti itu, dan orang yang menyembah-Ku akan hidup bersama-Ku”

(Bhagavad Gita 9.25)
Dengan ayat yang penting ini, mudah sekali kita mengerti bahwa seseorang dapat mencapai planet-planet surga hanya dengan menyembah para dewa, atau mencapai planet-planet pita (leluhur) dengan menyembah pita, atau mencapai planet-planet hantu dengan mempraktekan ilmu hitam, mengapa seorang penyembah yang murni tidak dapat mencapai planet Tuhan (kahyangan) ?

Sayang sekali, banyak orang tidak mempunyai keterangan tentang planet-planet yang mulia tersebut, yaitu tempat tinggal Yang Maha Pengasih, dan oleh karena mereka belum mengetahui tentang planet-planet itu, mereka jatuh. Orang yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan juga jatuh dari brahmajyoti.
Yang Maha Pengasih Bersabda:
mam upetya punar janma

dukhalayam asasvatam

napnuvanti mahatmanah

samsiddhim paramam gatah
“Sesudah mencapai kepada-Ku, roh-roh yang mulia, yogi-yogi dalam bhakti, tidak pernah kembali ke dunia fana yang penuh kesengsaraan, sebab mereka sudah mencapai kesempurnaan tertinggi”.

(Bhagavad Gita 8.15)
Oleh karena dunia material yang bersifat sementara ini penuh kesengsaraan, kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian, sewajarnya orang yang mencapai kesempurnaan tertinggi hingga memasuki planet tertinggi, Krishnaloka, Goloka Vrndavana, tidak ingin kembali lagi ke sini. Planet yang paling utama diuraikan dalam Veda dengan kata-kata avyakta, aksara, dan parama gati. Dengan kata lain, planet itu di luar penglihatan material kita, dan tidak dapat diuraikan. Tetapi planet itu adalah tujuan tertinggi, tujuan para mahatma (roh-roh yang mulia). Para mahatma menerima amanat-amanat rohani dari para penyembah yang sudah insaf akan dirinya. Dengan cara demikian berangsur – angsur mereka mengembangkan bhakti dalam kesadaran Krishna dan menjadi begitu khusuk dalam pengabdian rohani sehingga mereka tidak ingin lagi naik tingkat sampai planet material manapun, atau bercita-cita dipindahkan ke suatu planet rohani. Mereka hanya ingin Krishna dan pergaulan bersama- Krishna; mereka tidak menginginkan sesuatu selain itu. Itulah kesempurnaan hidup tertinggi.

Mungkin sekarang kita telah mengetahui semua hal di atas, tetapi terkadang angan angan pikiran kita berkata, “Jika saya tua nanti dan sudah tidak mampu bekerja lagi, barulah saya akan mulai mengikuti kesadaran Krishna”. Tetapi kematian mungkin akan datang sebelum kita tua atau kita sudah terlalu lemah pada saat tua. Seperti doa raja Kulasekhara;
krsna tvadiya pada pankaja panjarantam

adyaiva me visatu manasa raja hamsah

prana prayana samaye kapha vata pittaih

kanthavarodhana vidhau smaranam kutas te
“ Oh Tuhan, pada saat ini semoga raja angsa pikiran saya memasuki jaringan pada tangkai bunga padma di kaki-Mu, bagaimana mungkin bagiku untuk mengingat-Mu disaat kematian, ketika tenggorokan saya tersedak oleh lendir, dahak, dan udara?”.

(mukunda-mala stotra 33)
Untuk itulah jangan membuang-buang waktu lagi ucapkan Nama suci Tuhan secara teratur  dan berbahagialah .
 
Hare Krishna Hare Krishna

Krishna Krishna Hare Hare

Hare Rama Hare Rama

Rama Rama Hare Hare

Mewujudkan Impian

kita semua pasti mempunyai banyak impian didlm hati & didlm hidup kita..... kita tidak boleh putus asa utk mengubah sebuah impian menjadi kenyataan... selain berdoa kita juga harus berusaha & bekerja utk bisa menerima yg terbaik dari Tuhan.... ini adalah rumus utk menciptakan sebuah impian menjadi kenyataan : 
1 diawali dgn doa.... 
2 dilanjutkan dgn rencana.... 
3 diselesaikan dgn tindakan.... ingatlah selalu kalau Tuhan sangat menyayangi kita.... 


 

Damai Itu Indah

JIKA ANAK....

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.

Jika anak dibesarkan dengan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.

Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah.

Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri.

Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri.

Jika anak dibesarkan dengan iri hati,


ia belajar kedengkian.

Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah.

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.

Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.

Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai.

Jika anak dibesarkan dengan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya.

Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan.

Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan.

Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan.

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.

Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dengan pikiran.






Tumbuhkan Kebahagian

Menarik